Tampilkan postingan dengan label Sekolah Berbudaya Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Berbudaya Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Dampak Teknologi Terhadap Lingkungan

     Teknologi secara umum berarti keseluruhan peralatan dan prosedur yang terus mengalami penyempurnaan, baik di lihat dari segi pencapaian tujuan maupun proses pelaksanaannya. Teknologi sebagai budidaya manusia dalam beradaptasi dengan alam sesuai dengan maksud dan tujuan manusia penggunanya. Alhasil teknologi adalah ide-ide manusia dalam mempermudah aktifitas pencapaian tujuan.
Aktifitas manusia yang dinamik dan cenderung berkembang tanpa batas sangat mempengaruhi keadaan lingkungan hidup. Industri yang mengalami laju pertumbuhan relatif cepat merupakan bagian dari teknologi. Teknologi industri sebagai teknologi yang modern memiliki andil besar dalam proses perubahan panas bumi (Global Warming).
        Beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh proses industri antara lain, pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Proses industri yang baik harus melakukan upaya meminimalisir  pengaruh negatif terhadap lingkungan hidup Undang-Undang No.23 Tahun 1997 mengatur tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan pelaku industri harus dapat memperkirakan dan mencegah kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Pembangunan industri dapat menimbulkan dampak negatif berupa memperburuknya kondisi biografis-kimia.
 Masyarakat desa Kembangkuning dan Cibinong merasa terganggu dengan munculnya power plan, industri listrik yang menggunakan batu bara. Gangguan berupa debu pembakaran yang sering mengotori udara dan pekarangan penduduk. Pabrik-pabrik lain di sekitarnya juga kadang membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan sebelumnya mengakibatkan sungai Cikembang hilang biotanya, karena sungai tempat menerima limbah telah berubah menjadi bersifat asam dan mengandung bahan kimia yang berbahaya.Pembangunan industri yang terus mengalami perkembangan dan memerlukan ruang sementara ruang tidak mengalami perubahan. Akibatnya terjadi benturanan kepentingan, seperti menyusutnya lahan pertanian padahal jumlah penduduk yang butuh pangan semakin bertambah. Berkaitan dengan ketersediaan lokasi yang terbatas, pemerintah telah menetapkan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan serta lokasi bagi pembangunan industri yang sesuai yaitu Pasal 20 UU No Tahun 1984 tentang Perindustrian. Rencana umum tata ruang regional memberikan peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

    Pembangunan industri menimbulkan dampak negatif terhadap sosial, ekonomi dan budaya. Mempengaruhi pada ekonomi tradisional, ketentraman lingkungan dan perubahan budaya akibat interaksi para pelaku industri. Ketika PT. ELEGANT TEXTILE mulai beroperasi di tahun 1973, timbul budaya pergaulan bebas yang sangat mengkhawatirkan di sekitar lokasi industri. Juga timbul berbagai ketidakpuasan masyarakat baik antara masyarakat industri dengan karyawan maupun antara masyarakat industri dengan masyarakat sekitar. Dimana pola hidup baru yang dipengaruhi industri mendorong adat istiadat dan moral sebagai pilar kehidupan menjadi merosot.

Produk Industri Berdampak Terhadap Lingkungan
Disamping proses teknologi/industri yang memiliki pengaruh dampak negatif terhadap lingkungan, juga produknya tidak kalah andilnya dalam proses pencemaran lingkungan. Sebagai contoh kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil, asap buangannya menyumbang karbon yang tidak sedikit bagi atmosfir bumi. Demikian pula teknologi pembuatan material berbahan plastik sangat mengganggu kestabilan sumber daya alam tanah karena lambatnya penguraian secara alami.

        Artikel Terkait :

    FUNGSI TEKNOLOGI DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

    Kemajuan teknologi telah mendorong manusia untuk mengubah alam dan membuat hal-hal baru. Melalui teknologi , sesuatu yang dulu tidak mungkin kita lakukan sekarang menjadi mungkin untuk dilakukan, sesuatu yang susah dikerjakan kini menjadi mudah dikerjakan. Telah banyak dampak lingkungan yang muncul akibat teknologi. Teknologi telah dianggap sebagai alat bagi manusia untuk mengekploitasi lingkungan. Namun, teknologi juga dikembangkan manusia untuk mengelola lingkungan guna pelestariannya.
    Pada bab ini kita akan mempelajari fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan hidup karena itu setelah mempelajarinya kita diharapkan dapat memahami tentang :
    1.      Pengertian dan fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan
    2.      Jenis-jenis teknologi dalam  pengelolaan lingkungan
    3.      Dampak perkembangan teknologi terhadap lingkungan
    A.     Pengertian dan fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan
    Apakah kita sudah mengetahui yang dimaksud dengan teknologi? Apabila kita  pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor tentu akan lebih cepat sampai ke tujuan dari pada yang berjalan kaki ; menumbuk padi dengan menggunakan mesin penggiling jauh lebih mudah dari pada di tumbuk dengan kayu. Cepat dan mudah itulah tujuan dari pemanfaatan teknologi.
    Teknologi adalah produk atau hasil dari sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat praktis. Teknologi diciptakan manusia untuk membantu mengolah alam, mempermudah kegiatan, dan lain sebagainya yang terkait dengan kebutuhan manusia. Dapat kita katakan bahwa teknologi merupakan cara dan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena melalui pemanfatan teknologi, manusia dapat meningkatkan kesejahteraannya.
    Lingkungan merupakan sumber daya yang menjamin kehidupan  manusia beserta makhluk hidup lainnya. Dari lingkunganlah, manusia dapat memperoleh apa yang dibutuhkan, mulai dari kebutuhan  dasar seperti makan dan minum hingga kebutuhan yang lebih kompleks. Kebutuhan tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan meningkatnya jumlah manusia.
    Antara meningkatnya kebutuhan manusia dengan kemampuan lingkungan untuk memproduksi sering tidak seimbang. Akibatnya terjadi kelangkaan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan. Persaingan antara manusia pun terjadi semakin ketat. Berbagai cara terus dilakukan manusia untuk bisa memanfaatkan  alam lingkungan ini.
    Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kita telah diciptakan sebagai manusia yang berakal. Akal dikaruniakan Tuhan adalah untuk berfikir, agar manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi. Melalui teknologi, manusia mampu mengubah apa-apa yang di alam sehingga dapat terpenuhi kebutuhannya.
    Kebutuhan manusia sangat tidak terbatas dan beranekaragam. Karena itu, perkembangan teknologi juga bermacam-macam sesuai kebutuhannya tersebut. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan maka teknologi juga mengalami perkembangan dengan pesat. Ada teknologi  pertanian, teknologi industri, teknologi transportasi, teknologi komunikasi, teknologi kesehatan dll.
    Saat ini kehadiran teknologi telah menjadi bagian yang sangat penting dalam pengelolaan lingkungan. Melalui teknologi, manusia tidak hanya memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan, akan tetapi juga untuk menjaga dan melestarikan kualitas lingkungan. Dengan demikian, teknologi juga berfungsi untuk mengelola lingkungan ini agar tetap serasi dan selaras dengan kehidupan manusia.
    B.     Jenis-jenis teknologi dalam  pengelolaan lingkungan
    Teknologi juga memiliki pengertian sebagai cara yang memudahkan manusia untuk melakukan  kegiatan. Hal ini berarti teknologi tidak hanya berhubungan dengan alat-alat yang modern. Teknologi  juga ada yang sederhana yang diciptakan manusia sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, membajak sawah dengan menggunakan traktor adalah pemanfaatan teknologi modern. Akan tetapi membajak sawah dengan menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau merupakan teknologi sederhana. Nah sekarang kita sudah paham perbedaannya.

    Pengelolaan Lingkungan Sekolah

    Lingkungan Sekolah yang kondusif sangat diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang bermutu. Pemberian pengetahuan dan pembentukan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat dirasa sangat efektif ketika dilakukan pada siswa  sejak di bangku sekolah dasar. Diharapkan ketika
    berada di luar lingkungan sekolah, mampu menerapkan hidup bersih dan sehat seperti saat di sekolahnya.
    Sekolah yang berbudaya lingkungan sebagai salah satu wadah peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa memiliki peran penting dalam menyumbang perubahan yang terjadi dalam keluarga. Bagaimana menghargai air bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara tepat serta mengelola sampah menjadi pupuk tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada masyarakatnya.
    Pengolahan lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam pengelolaan air, sampah, energi dan halaman yang ada disekitar sekolah.
    1.      Pengelolaan Air di Sekolah
            Kita dapat membayangkan apabila di sekolah kekurangan air bersih ! tentunya sekolah menjadi kotor karena jarang atau tidak pernah dibersihkan, kamar mandi mengeluarkan bau yang tidak sedap, dan merasa tidak nyaman atau kesulitan bila kita hendak ke WC. Akibatnya lingkungan sekolah menjadi tidak sehat sehingga dapat mengganggu kenyamanan belajar.
    Ketersediaan air bersih disekolah sangat diperlukan dalam jumlah yang relatif banyak. Hal ini mengingat jumlah warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru, dan karyawan dapat mencapai ratusan orang. Sehinga kebutuhan air bersih akan lebih banyak lagi. Jenis kebutuhan air disekolah adalah untuk minum, membersihkan lantai, membersihkan WC, mencuci peralatan laboratorium dan menyiram tanaman.
    Sumber air bersih yang digunakan bagi pemenuhan kebutuhan warga sekolah dapat berasal dari air PDAM, sumur gali, sumur pompa, atau sumber mata air, yang dialirkan bagi sekolah-sekolah yang terletak di pegunungan. Untuk mengurangi keterbatasan air bersih disekolah, dapat dilakukan dengan upaya penghematan melalui penentuan prioritas. Misalnya, air bersih hanya digunakan untuk minum dan mengisi bak mandi, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti membersihkan WC, membersihkan lantai dan menyiram tanaman gunakanlah air yang berasal dari bak-bak penampungan air hujan.
    Karena itu sekolah perlu menyediakan bak-bak penampungan air hujan, baik berupa kolam maupun sumur-sumur resapan. Sumber air yang mengisi kolam maupun sumur resapan sebaiknya berasal dari air hujan yang jatuh dari atap bangunan sekolah atau dari air bekas wudhu dan cuci tangan. Kemudian dialirkan melalui saluran pipa-pipa yang menuju kolam maupun sumur resapan, sehingga airnya masih bersih belum bercampur lumpur.
    Sekolah-sekolah yang berada di negara-negara maju umumnya sudah memiliki teknologi pengelolaan air limbah. Sehingga air bersih yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sekolah tidak berasal dari sumbernya, akan tetapi menggunakan kembali air yang sudah dipakai melalui teknologi air limbah.
    Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan tentu sangat mahal harganya. Negara kita belum mampu memenuhi hal itu, apalagi diadakan disekolah-sekolah yang jumlahnya sangat banyak. Ada caranya sebenarnya lebih murah untuk mengatasi keterbatasan air bersih disekolah yang dapat kalian lakukan. Cara tersebut adalah dengan melakukan penghematan air saat pamakaian dan selalu menutup kran air apabila terlihat terbuka sehingga air tidak terbuang percuma.

    2.      Pengelolaan Sampah di Sekolah
    Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti cara-cara yang baik dan benar. Apa pentingnya pengelolaan sampah disekolah ? Pada prinsipnya semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan semakin mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
    Tahapan-tahapan pengelolaan sampah disekolah adalah :
    a.       Pencegahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan sekolah.
    b.      Pemanfaatan kembali sampah terdiri atas :
    1.      Pemanfaatan sampah organik, seperti komposting (pengomposan) sampah yang mudah membusuk dapat diubah manjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70 % dapat direduksi hingga mencapai 25 %.
    2.      Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangakan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastic, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
    3.      Tempat pembuangan sampah akhir. Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan komposting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai + 10 % harus dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) disekolah.
    Selain itu untuk menciptakan suatu kondisi sekolah yang sehat, sekolah harus memenuhi kriteria, antara lain kebersihan dan ventilasi ruangan, kebersihan kantin, WC, kamar mandi, tempat cuci tangan, melaksanakan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, bimbingan konseling dan manajemen peran serta masyarakat.
    3.      Pengelolaan Energi di Sekolah
    Penggunaan energi di sekolah sangat penting agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Penggunaan energi disekolah biasanya untuk menerangi ruangan-ruangan, menyalakan barang-barang eletronik seperti komputer dan media pembelajaran, mengalirkan pompa air dll.
    Terhadap fasilitas umum seperti sekolah, hendaknya kita bersama-sama bertanggung jawab untuk memelihara dan menghemat pada saat pemakaiannya. Banyak cara yang dapat kalian lakukan dalam rangka pengelolaan energi disekolah, misalnya melalui penggunaan cahaya matahari untuk menerangi ruangan-ruangan belajar dikelas, perpustakaan, laboratorium, dll. Menghemat pemakaian air karena dialirkan menggunakan listrik, mematikan lampu-lampu yang masih menyala saat siang hari. Mematikan alat-alat elektronik seperti komputer dan televise saat sedang tidak digunakan.
    4.      Pengelolaan Halaman Sekolah
    Sekolah sebagai tempat belajar perlu memiliki lingkungan yang bersih dan sehat agar tercipta suasana belajar yang nyaman. Kita bisa membayangkan apabila sekolah kita kotor dan tidak sehat, tentu sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pastikan ruangan kelas kalian bersih dari sampah, debu dan bau yang tidak sedap. Bahkan kalian bias menambahkannya dengan wangi-wangian dan tanaman hidup dalam pot.
    Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat tidak hanya di dalam kelas tetapi juga diluar kelas, seperti di halaman. Halaman sekolah selain di tata keindahannya, juga perlu memperhatikan persyaratan kesehatan. Halaman sekolah yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai macam penyakit sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi semua warga sekolah.

    Artikel Terkait :

    Sekolah Berbudaya Lingkungan : Melalui Program Adiwiyata

         Sekolah Berbudaya Lingkungan, inilah yang menurut saya perlu mendapat perhatian kita semua. Alasannya sederhana, "Bumi kita semakin  rusak" lingkungan  tempat kita berada  sudah tidak lagi  memberikan rasa nyaman.  Siapakah yang merusak Bumi ini, jangan sepenuhnya menyalahkan   pihak lain atau orang lain, kita pun terlibat di dalamnya (silahkan renungkan sendiri). Siapa pula yang harus memperbaiki lingkungan, ya kita sendiri.
          ADIWIYATA merupakan program terhadap sekolah untuk mewujudkan sekolah berwawasan dan peduli lingkungan (Sekolah Berbudaya Lingkunngan). Adiwiyata mempunyai makna “Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan”.

    1. Tujuan Program Adiwiyata
        Program Adiwiyata bertujuan menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.
        Kegiatan utama diarahkan pada terwujudnya kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia. Disamping pengembangan norma-norma dasar yang antara lain: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. Serta penerapan prinsip dasar yaitu: partisipatif, dimana komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab dan peran; serta berkelanjutan, dimana seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komperensif.

    2. Indikator Program Adiwiyata
    A. Pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan
        Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka diperlukan beberapa kebijakan sekolah yang mendukung dilaksanakannya kegiatan-kegiatan pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Program Adiwiyata yaitu partisipatif dan berkelanjutan.
         Pengembangan kebijakan sekolah tersebut antara lain:
    1. Visi dan misi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.
    2. Kebijakan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup.
    3. Kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (tenaga kependidikan dan
    non-kependidikan) di bidang pendidikan lingkungan hidup.
    4. Kebijakan sekolah dalam upaya penghematan sumber daya alam.
    5. Kebijakan sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.
    6. Kebijakan sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan
    masalah lingkungan hidup.

    B. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
       Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para siswa dapat dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi atau monolitik. Pengembangan materi, model pembelajaran dan metode belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari (isu local).

    Pengembangan kurikulum tersebut dapat dilakukan antara lain:
    1. Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran.
    2. Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar.
    3. Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya.
    4. Pengembangan kegiatan kurikuler untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.

    C. Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif
        Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan, warga sekolah perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat disekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkungannya.
         Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain:
    1. Menciptakan kegiatan ekstra kurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis patisipatif di sekolah.
    2. Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar.
    3. Membangun kegiatan kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

    D. Pengelolaan dan atau Pengembangan Sarana Pendukung Sekolah
        Dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan perlu didukung sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup, antara lain meliputi:

    1. Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup.
    2. Peningkatan kualitas penge-lolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah.
    3. Penghematan sumberdaya alam (listrik, air, dan ATK).
    4. Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat.
    5. Pengembangan sistem pengelolaan sampah.

    3. Penghargaan Program Adiwiyata

       Pada dasarnya program Adiwiyata tidak ditujukan sebagai suatu kompetisi atau lomba. Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada sekolah yang mampu melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Penghargaan diberikan pada tahapan pemberdayaan (selama kurun waktu kurang dari 3 tahun) dan tahap kemandirian (selama kurun waktu lebih dari 3 tahun).
        Pada tahap awal, penghargaan Adiwiyata dibedakan atas 2 (dua) kategori, yaitu:
    1. Sekolah Adiwiyata adalah, sekolah yang dinilai telah berhasil dalam melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup.
    2. Calon Sekolah Adiwiyata adalah. Sekolah yang dinilai telah berhasil dalam Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup.

        Pada tahun 2007 kuesioner yang diterima oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup dari seluruh Indonesia sebanyak 146 sekolah yang berasal dari 17 propinsi. Setelah melalui tahaptahap seleksi penilaian, maka ditetapkanlah 30 sekolah sebagai calon model sekolah Adiwiyata tahun 2007. Sedangkan 10 sekolah yang telah terseleksi sebelumnya di tahun 2006 (meliputi ruang lingkup Pulau Jawa) ditetapkan sebagai sekolah penerima penghargaan Adiwiyata sesuai dengan kategori pencapaiannya.

    4. Tata Cara Pengusulan Calon Penerima Penghargaan Adiwiyata
        Setiap Sekolah dapat diajukan oleh Pemerintah Daerah sebagai calon Sekolah Adiwiyata sesuai dengan kuota yang ditetapkan oleh Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Pengajuan calon sebagaimana dimaksud diatas dilakukan dengan mengisi kuesioner dan menyertai lampiran yang diperlukan sesuai dengan formulir yang telah disediakan oleh Kantor Negara Lingkungan Hidup.
    1. Calon sekolah Adiwiyata dan sekolah Adiwiyata akan diteliti lebih lanjut oleh Dewan Pertimbangan Adiwiyata.
    2. Penerima penghargaan calon dan sekolah Adiwiyata ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.

    5. Mekanisme Penilaian Program Adiwiyata
        Pada dasarnya peluang mengikuti program Adiwiyata terbuka bagi seluruh sekolah di tanah air Indonesia. Mengingat keterbatasan yang ada dan kepentingan dari semua pihak terkait, maka dalam proses seleksi dan peni laian, Kementerian Negara Lingkungan Hidup dibantu oleh berbagai pihak, antara lain: Pemerintah Daerah setempat (dalam hal ini dikoordinir oleh BPLHD/Bapedalda Propinsi), bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Akademisi dan pihak swasta lainnya.
        Tim Penilai Adiwiyata pun terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yaitu: Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Departemen Pendidikan Nasional, LSM yang bergerak di bidang lingkungan, Jaringan Pendidikan Lingkungan, Perguruan Tinggi, Swasta dll. Sedangkan Dewan Pengesahan Adiwiyata terdiri dari Pakar Lingkungan, Pakar Pendidikan Lingkungan, wakil dari Perguruan Tinggi dlsbnya.